Rabu, 06 Maret 2019

Menumbuhkan Budaya Baca di Kalangan Anak


“Tumbuhkanlah budaya baca di kalangan mereka. Pilihlah kitab-kitab tertentu dan kisah-kisah yang bermanfaat untuk mereka.” Begitulah nasihat Maram al-‘Athiyyah kepada para wanita dalam mendidik anak-anak mereka. Menurut beliau, hal itu salah satu medan jihad wanita di rumah.

Tentu nasihat tersebut juga sesuai dengan pendidikan anak di sekolah. Guru dapat menunaikan nasihat tersebut kepada anak didik dengan berbagai cara. Salah satunya, wisata buku.

Wisata buku merupakan salah satu usaha menumbuhkan minat baca pada anak-anak sehingga mereka menjadi gemar membaca. Dengan kata lain, wisata buku dimaksudkan agar anak-anak menjadikan budaya baca sebagai sebuah kebutuhan. Mereka membaca di rumah, masjid, sekolah, perpustakaan, ruang tunggu, dan sebagainya. Mereka membaca saat akan tidur, istirahat sekolah, selepas Zhuhur, bakda ‘Ashar, menunggu jemputan, dan sebagainya. Mereka terbiasa membaca buku secara tuntas, bukan sepintas lintas. Dengan demikian, anak-anak dapat memetik ilmu yang bermanfaat untuk tumbuh kembang mereka menjadi insan bermoral yang berkarya.

Baru saja saya dan beberapa rekan guru kembali mengajak anak-anak wisata buku. Kali ini ke Toko Buku Arafah. Setiba di sana, anak-anak disambut dengan pembagian pin cantik dari “tuan rumah” bertuliskan Wisata Buku Arafah. Setelah itu, anak-anak mendapat secuil pengetahuan tentang cara menulis buku. Acara pun dilanjutkan dengan membeli buku di Arafah. Sebelumnya, anak-anak mendapat uang jajan buku Rp5.000,00 dari sekolah.

Kami membebaskan anak-anak memilih buku yang mereka suka. Tentu yang sesuai dengan jumlah uang saku yang diterimanya dari rumah dan sekolah. Hal yang menarik hati adalah membantu mereka menghitung potongan harga buku. Dengan ramah-tamah, kasir di sana ikut membantu menghitung potongan harga buku yang ditanyakan anak-anak. Alhamdulillâh, rata-rata buku yang mereka beli mendapat diskon 30%.

Wisata buku tersebut sebenarnya sudah kami rencanakan sejak awal Tahun Pelajaran 2016/2017. Karena pertimbangan tertentu, kami mengajak anak-anak ke Griya Solopos terlebih dahulu. Ajakan tersebut tentu juga mempunyai maksud menumbuhkan budaya baca di kalangan mereka. Tambahan lagi, wisata buku tersebut bukan yang pertama kali kami adakan.

Kami mengawali wisata buku pada bulan September 2013. Saat itu ada Pesta Buku di Pendapi Gedhe Balaikota Solo dalam rangka hari Kunjung Perpustakaan. Selanjutnya, kami beberapa kali mengajak anak-anak wisata buku ke Kompleks Toko Buku Busri (mburi Sriwedari) dan Toko Buku Toga Mas. Kami juga pernah mengajak anak-anak ke Toko Buku Budhi Laksana dan Perpustakaan Nurul Huda UNS. Anak-anak sangat bersemangat. Namun saat di Toga Mas, mereka lebih terpikat membeli peralatan tulis dan penunjuk halaman buku. Sebelum itu semua, kami sering menganjurkan agar anak-anak berkunjung ke Pameran Buku Murah yang rutin diadakan di Assalam Hypermarket.

Hal di atas menunjukkan bahwa kami memotivasi anak-anak supaya memiliki buku-buku bacaan di rumah. Kami tidak melarangnya. Kami tidak menganjurkan anak-anak membaca buku-buku pelajaran sekolah saja. Jika ada yang beropini bahwa guru tidak mendorong anak-anak memiliki buku-buku bacaan di rumah, tentu kurang tepat. Sungguhpun begitu, alangkah arifnya jika guru menyampaikan nasihat dari Dr. ‘Aidh al-Qarni, M.A. kepada anak didiknya. Nasihat itu berbunyi, “… seorang penuntut ilmu harus bijak dan cermat dalam memilih buku-buku yang akan dibeli dan dibacanya. Sebaiknya, pilih buku-buku yang bermutu dan bermanfaat saja.”


(Artikel ini saya kirimkan ke http://ar-risalah.org pada tanggal 13 Mei 2017, kemudian dipublikasikan pada tanggal 14 Mei 2017[http://ar-risalah.org/menumbuhkan-budaya-baca-di-kalangan-anak/].)

Selasa, 05 Maret 2019

Wahai, Guru, Menulislah!

Apa yang terbayang pada kita saat mengetahui keterampilan berbahasa seseorang? Tentu kemampuan berpikir orang tersebut. Keterampilan berbahasa mencakup empat hal: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Meskipun demikian, keempat keterampilan tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Adapun yang penting untuk selalu kita ingat, keterampilan berbahasa seseorang tidak diperoleh begitu saja.

Sembilan tahun lalu, saat masih menempuh studi pada Program Akta Mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, saya pertama kali mengenal kalimat Man jadda wajada. Kalimat tersebut berarti Siapa saja yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Senada dengan kalimat tersebut, seseorang akan terampil dalam berbahasa jika ia tidak putus-putusnya berlatih.

Saat kecil kita belajar menyimak dan berbicara. Selanjutnya, kita belajar membaca dan menulis. Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan kita dalam menggunakan bahasa mengalami perkembangan dengan teratur. Pada usia seperti saat ini, keterampilan berbahasa kita semakin berkembang seiring kesibukan kita dalam pendidikan, bermasyarakat, dan bekerja.

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang menarik untuk dibicarakan. Keterampilan menulis harus dikuasai peserta didik pada pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. Tentu harus lebih kita kuasai karena kita sudah melewati tiga jenjang pendidikan tersebut. Boleh dikatakan, keterampilan menulis sepatutnya dikuasai para akademisi.

Lewat menulis, kita dapat mengekspresikan gagasan, maksud, perasaan, dan sebagainya dalam bentuk tulisan. Meskipun demikian, keterampilan menulis membutuhkan daya pikir dan daya cipta yang dipengaruhi keluasan pengetahuan seseorang. Kita harus banyak menyimak, membaca, dan senantiasa praktik.

Ya, jika hanya mengandalkan banyak praktik menulis tanpa memperluas pengetahuan, tentu kita akan menjadi penulis yang kurang bijaksana. Kita juga harus memperluas pengetahuan melalui pengalaman menyimak dan membaca yang tiada terputus. Rasûlullâh ﷺ bersabda yang artinya “Bersemangatlah kalian pada apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan Allâh dan jangan malas!” (H.R. Bukhârî dan Muslim). Oleh karena itu, tidak selayaknya kita malas menyimak dan membaca sebagai upaya menimba ilmu. Itulah bekal kita dalam menulis. Boleh dikatakan, bekal nikmat yang membuahkan ilmu yang lezat.

Jika kita berkunjung ke toko buku–Arafah, misalnya–kita akan menyadari bahwa menulis merupakan kebiasaan ulama. Kita akan menjumpai banyaknya buku yang ditulis para ulama: Imâm Bukhârî (196–256 H), Imâm an-Nawawi (631–676 H), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (691–751 H), Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn (1347–1421 H), Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka (1362–1401 H), ‘Aidh al-Qarni (1379 H), dan sebagainya. Kita pun akan memahami bahwa menulis dapat dijadikan sebagai sarana dakwah yang mampu menyegarkan jiwa penulisnya maupun pembacanya.

Adapun guru, tidak sedikit yang hidupnya semakin berwarna dengan menulis. Sebagai contoh, Habiburrahman El Shirazy yang sangat dikenal dalam dunia sastra Islam dan  saat ini menjadi dosen di STIQ An Nur Yogyakarta, dahulu adalah guru di MAN 1 Yogyakarta. Kita pun bisa menemukan guru-guru yang artikelnya banyak menghiasi media cetak maupun digital. Kementerian Pendidikan Indonesia melalui Peraturan Nomor 35 Tahun 2010 juga menganjurkan guru untuk memiliki karya tulis ilmiah yang dipublikasikan kepada masyarakat.

Berkenaan itu, saya masih menyimpan sebuah buku yang saya miliki sejak duduk pada bangku SLTP. Berdasarkan nama-nama yang menghiasi buku tersebut, tampak bahwa buku itu turun-temurun dari saudara misan saya, kakak kandung saya, lantas saya. Kami menempuh studi pada SLTP yang berbeda. Hal yang membanggakan adalah buku itu ditulis oleh Elha Simbolon Parna, guru Bahasa Indonesia saya di SLTP Negeri 19 Surakarta. Buku itu sangat bermanfaat bagi saya saat itu dan sampai saat ini.

Nah, apalagi yang kita tunggu, wahai, guru? Lapangkanlah waktu! Mulailah menulis dan biasakanlah!


(Artikel ini saya kirimkan ke http://ar-risalah.org pada tanggal 4 Mei 2017 dan dipublikasikan pada tanggal yang sama [http://ar-risalah.org/wahai-guru-menulislah/].)

Terbaru

Contoh Laporan Analisis Puisi untuk Murid Kelas IX SMP Kurikulum Merdeka (Contoh Kedua)

  Laporan Analisis Puisi “Indonesia Potongan dari Surga”   Identitas Puisi Puisi “Indonesia Potongan dari Surga” ditulis oleh Pardi S....

Terpopuler