Laporan Analisis Puisi “Diponegoro”
Identitas
Puisi
Puisi “Diponegoro” ditulis oleh Chairil Anwar pada
Februari 1943. Puisi ini terdapat di dalam Seri
Buku Tempo, Chairil Anwar (Kepustakaan Populer Gramedia, 2025).
Struktur Fisik
Puisi
Puisi ini termasuk puisi modern karena tidak terikat
oleh jumlah baris atau rima tertentu. Puisi ini menggunakan gaya bahasa
repetisi melalui kata “Maju” untuk mendorong pembaca melakukan suatu tindakan
dengan tujuan tertentu. Selain itu, puisi ini menggunakan gaya bahasa metafora
melalui frasa “Bara kagum menjadi api” yang menjelaskan perubahan rasa kagum
kepada Pangeran Diponegoro menjadi perasaan yang menggelora dalam perjuangan.
Struktur Batin
Puisi
Melalui larik-lariknya yang pendek, puisi ini mengusung tema kepahlawanan. Penyair ingin membangkitkan kembali semangat Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda dalam Perang Jawa (1825–1830). Penyair mengajak pembaca untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan berani melawan penjajahan.
Simpulan
Secara keseluruhan, puisi “Diponegoro” adalah puisi perjuangan yang mengobarkan semangat nasionalisme. Chairil Anwar menegaskan agar rakyat Indonesia berani melawan penjajahan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Boyolali, 23 Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkata yang baik atau hendaklah diam (H.R. Bukhârî dan Muslim).