Thalabul-‘ilmi
farîdhatun ‘alâ kulli muslimin. Itu adalah hadis yang saya kenal sejak
masih duduk pada bangku sekolah dasar. Artinya, menuntut ilmu itu wajib atas
setiap Muslim. Muslim yang dimaksud adalah muslim laki-laki maupun muslim
perempuan.
Dr. ‘Aidh ibn Abdullah
al-Qarni dalam penutup Menjadi Pelajar Berprestasi: Pengalaman Para Ulama
Besar (2015) menaruh salam hormat kepada para penuntut ilmu. Beliau
mendoakan mereka agar selalu mendapat taufik dari Allah Subhânahu wa
Ta’âlâ. Âmîn.
Menjadi Pelajar
Berprestasi: Pengalaman Para Ulama Besar merupakan hasil
terjemahan Yodi Indrayadi dari Kaifa Tathlubu al-‘Ilma yang diterbitkan
Maktabah al-Obeikan (Riyadh). Buku yang diterjemahkan Yodi Indrayadi tersebut diterbitkan
oleh Qisthi Press pada tahun 2006. Namun, buku yang ada di tangan saya
merupakan cetakan ketujuh belas (Juni 2015). Mâsyâ Allâh. Agaknya buku
tersebut terbit setelah Jangan Bersedih: Jadilah Wanita yang Paling Bahagia
karya ‘Aidh al-Qarni yang saya baca tuntas saat masih menempuh studi S-1.
Menjadi Pelajar
Berprestasi: Pengalaman Para Ulama Besar merupakan pedoman
praktis untuk para penuntut ilmu. Di dalamnya ada lima puluh halaman yang
memuat 82 hal yang bisa dikerjakan para penuntut ilmu sehingga keselamatan dan
keberkahan mewarnai kehidupannya. Hal itu dimulai dengan daftar kitab yang
harus dihafal selain Al-Qur’an, yaitu Bulûghu al-Marâm, Riyâdhu
ash-Shâlihin, dan empat kitab lainnya. Beliau melengkapi bahwa
hafalan akan sangat terbantu dengan ketakwaan kepada Allah Subhânahu
wa Ta’âlâ (hal ke-46).
‘Aidh al-Qarni
menekankan, hendaknya kita menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai patokan
ilmu (hal ke-17). Adapun memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para
sahabat dan salafu al-shâlih adalah syarat mutlak (hal ke-69). Beliau
juga membagi petunjuk praktis menghafal Al-Qur’an (hal ke-27). Petunjuk pertama
adalah niat mencari ridha Allah, adapun petunjuk terakhir adalah membaca
tafsir sesuai hafalan. Berkenaan itu, beliau telah menyarankan Tafsîr Ibn
Katsîr menjadi salah satu buku wajib di perpustakaan seorang penuntut ilmu
(hal ke-2). Beliau mengemukakan bahwa tafsir, fikih, dan hadis merupakan tiga
ilmu utama yang hendaknya dibaca dan dikaji (hal ke-53). Selain Tafsîr Ibn
Katsîr, beliau juga menyarankan Tafsîr al-Qurthubi (hal ke-71).
Beliau mengingatkan
tentang penyakit hati yang bisa menghinakan dan membinasakan para penuntut ilmu
(hal ke-20). Penyakit hati itu, antara lain, riya’, dengki, dan takabur.
Obat ketiga penyakit hati tersebut, yaitu ikhlas, meminta perlindungan kepada
Allah, dan rendah hati.
Demikian kandungan
ringkas buku Menjadi Pelajar Berprestasi: Pengalaman Para Ulama Besar.
Buku tipis yang bisa masuk saku, tetapi kaya pedoman praktis bagi para penuntut
ilmu. Saat saya telah membacanya secara tuntas, saya merasa belum puas. Saya
pun mengulangnya dan saya merasa lebih bahagia. Ya, petualangan mencari ilmu
memang membahagiakan.
Boyolali,
22 Februari 2020
Artikel ini telah
dipublikasikan dalam majalah Ar-Royyan Edisi 57 (Ar-Risalah Peduli,
Maret 2020) pada rubrik Bicara Buku.